Diskusi Diplomasi

 Nama : Amara Wydi Astutik

NIM : 1804016087 / AFI-C6


MENGENALKAN BUDAYA INDONESIA DI MANCANEGARA BERSAMA BIPA

 

Semarang- BIPA merupakan program bahasa Indonesia bagi penutur asing. Komunita BIPA sabtu (24/4) telah mengadakan Webinar Diskusi Diplomasi “Diplomasi di Tengah Pandemi, BIPA Tetap Mengudara”. Diskusi ini banyak dihadiri oleh peserta yang tidak hanya dari Indonesia, akan tetapi juga luar Negri. Berbeda dengan biasanya, Webinar tidak dilakukan secara esklusif didalam sebuah gedung bersama, namun Webinar dilakukan melalui virtual zoom bersama para tokoh BIPA ternama dalam bidang ke-BIPA-an. Dipandu oleh pemantik ibu Chindy Febrindasari, S. Pd. M.A.( dosen dan pengajar BIPA UIN Walisongo Semarang). Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan oleh bapak Eko Widianto S.Pd.,M.Pd. (selaku dosen dan pengajar BIPA UIN Walisongo Semarang) dan pemaparan materi kedua oleh ibu Roslina Sawitri, S.Pd.,M.Pd. (Duta bahasa Negara Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud, Yale Universiti Amerika Serikat). 

 

BIPA merupakan isu baru, Bipa sudah eksis sejak puluhan tahun lalu, mulai dari eksisnya bahasa Indonesia ketika menjadi bahsaa Nasional. Lambat laun BIPA kemudian mampu dikenal hingga mancanegara. Namun baru-baru ini BIPA menjadi salah satu trend dalam kajian bahasa dan sastra Indonesia. Banyak orang mengkaji, meneliti, dan mengasingkan diri untuk menjadi salah satu orang yang berkarir di dunia BIPA. Pak Eko menuturkan “ secara dimensi BIPA tidak hanya sekedar menjadi Ilmu, tidak hanya sekedar sebagai proses pembelajaran bahasa asing atau bahasa kedua bagi warga negara internasional akan tetapi BIPA menjadi salah satu strategi diplomasi”. Oleh karena itu BIPA sebagai dimensi sarana diplomasi, maka ketika mengajar BIPA seorang pengajar tidak hanya mengajarkan ketrampilan berbahasa saja, jauh dari itu pengajar BIPA dituntut sebagai agen budaya. Mengenalkan budaya Indonesia kepada muridnya, sehingga pengajar BIPA harus bisa menari, menyanyi, bermain alat musik gamelan atau angklung misalnya. Oleh karena itu memperkenalkan Indonesia tidak serta merta hanya menggunakan bahasa Indonesia untuk pendekatannya. Justru melakukan pendekatan dengan mengenalkan wayang, tarian, kuliner baju adat, dsb. Dalam hal seperti ini diplomasi budaya sangat penting untuk menjadi salah satu warna dalam program BIPA. 

 

Namun sejak terjadinya pandemi, para pengajar BIPA dikagetkan dengan semua program yang harus terhenti,tidak ada izin, hampir semua akses ditutup. Oleh karena itu para pengajar BIPA mendobrak keadaan baru untuk berproses dengan melakukan kelas online, kelas sharing, kelas daring dan semacam webinar.

Dalam webinar tersebut banyak sekali pengalaman yang pak Eko Widianto bagikan selama menjadi pengajar BIPA. Mulai dari pengenalan bahasa sampai pengenalan budaya Indonesia. Pak Eko juga menceritakan bahwa beliau telah membuka kelas virtual gratis untuk para pemula pelajar BIPA sejak bulan Maret 2021. Beilau bekerjasama dengan komunitas budaya dan wayang yang ada di Jepara. 

 Tidak hanya pak Eko, pada narasumber kedua ibu Roslina Sawitri juga menceritakan pengalaman yang di dapat selama menjadi pengajar BIPA. Pengalaman yang menarik salah satunyaa dalam mengajar BIPA diluar negeri adalah dengan mengenalkan budaya Indonesia seperti tarian Makassar. Meskipun beliau asli orang sunda, tapi pakaian tarian makasaar dianggap lebih mudah digunakan dan dibawa kemanapun dari pada tarian sunda yang membutuhkan mahkota. Pakaian yang digunakan oleh pengajar BIPA juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan diplomasi untuk memperkenalkan budaya kebiasaan yang ada di Indonesia.


 


Dalam diplomasinya sendiri ibu Roslina lebih mengintegritaskan di materi pembelajaran BIPA. Beliau menyediakan ruang untuk para dosen dan mahasiswa yang ingin menjadi pengajar BIPA. Selama masa pandemi bu Roslina mengajar dua kelas jalur BIPA dengan menampilkan proses belajar BIPA secara daring. Ibu Roslina mengatakan bahwa penggunaan whatsaap dan google classroom lebih sering digunakan daripada google meet yang sering terkendala koneksi buruk yang dilakukan oleh para mahasiswa. Selain itu, model pembelajaran yang digunakan dalam mengajar kelas BIPA terdiri dari bahan ajar materi asli, Kbm dan foto, terutama youtube. Mereka dituntut untuk memanfaatkan media sosial dan virtual aktualisasi, seperti contoh pemberian tugas membuat video tentang abjad Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kuliah gabungan

Gerbang baru

Mudik